Kamis, 13 September 2012



Anyaman Purun


Tak biasa dipisahkan dari warisan dan peninggalan orang-orang terdahulu yang turun temurun, asal mula tradisi menganyam purun ini pun merupakan suatu kebudayaan dan kesenian yang dari dahulu sudah ada. Di mana kesenian ini bias kita temui  di daerah Margasari Kecamatan Candi Laras Selatan Kabupaten Tapin. Di mana orang-orang terdahulu sangat terampil dan pandai dalam kesenian menganyam, sehingga sampai sekarang pun kegiatan ini masih kental. Karena juga tanaman purun ini masih ada dan tumbuh, oleh sebab itulah tradisi ini tetap dilestarikan.
Perlu kita ketahui pila mengenai di mana tempat tumbuhnya atau habitat tanaman purun tersebut. Untuk hal ini busa dikatakan cukup unik, mengapa…? Karena tanaman ini tumbuh di rawa dan pinggir sungai yang terdapat di Margasari. Tanaman ini tidak dirawat dan dikembangkan secara sengaja. Tetapi, ia tumbuh dengan sendirinya bahkan terus-meneru. Sehingga masyarak di sana tidak susah untuk mendapatkannya.
Nah untuk sebelum menjadi sebuah anyaman dan cara membuatnya ada beberapa tahap,yaitu : Mengambil tanaman purun tersebut di rawa atau pinggir sungai di mana tempat ia tumbuh, mengeringkan tanaman purun dengan cara menjemurnya, menempa tanaman purun dengan alat supaya tampak lebih halus, dan yang terakhir menyiapkan zat pewarna untuk mewarnai purun supaya tampak bagus, keringkan setelah barulah melakukan penganyaman dengan dibantu beberapa alat, antara lain : jarum dan tali pengikat. Dari itu semua nantinya akan menghasilkan anyaman yang berbentuk, seperti : topi purun, tikar purun, kipas purun, dan anyaman lainnya.
Tujuan dan manfaat menganyaman purun ini bagi masyarakat Margasari yaitu sebagai bahan penghasilan mereka, karena anyaman purun ini bisa dijual bahkan pemasarannya pun sudah sampai keluar daerah-daerah. Walaupun kesenian ini sifatnya hanya kedaerahan, tetapi masyarakat di sana cukup bangga atas adanya suatu peninggalan dari orang-orang dulu sebelum mereka. Sehingga sampai sekarang ini Margasari dijuluki sebagai daerah yang mempunyai kesenian anyam-anyaman. Menurut saya nih ya…! Dari semua ini kita toh tidak bisa lepas dari konsep A-B-C iya nggak…? Nah apa itu…Jadi yang di maksud A adalah Abiotik, dimana purun yang sudah diproses dengan baik bisa diolah menjadi suatu seni dan pada hakekatnya itu merupakan benda mati. Kalo B itu adalah Biotik, kita taukan untuk membuat suatu seni itu pasti ada yang mengolah seni yaitu manusia yang Genius. Sedangkan C adalah Cultur atau kebudayaan, dari adanya suatu kebudayaan serta kebiasaan para orang-orang terdahulu inilah kita akan mendapatkan suatu warisan yakni kesenian menganyam tersebut.
 KOPIAH JANGANG SUATU KESENIAN YANG POPULER DAN UNIK DI MARGASARI  
Berbicara mengenai kopiah jangang dari sini pasti kita akan bertanya-tanya, ko jadi diberi nama kopiah jangang sih, kenapa nggak kopiah haji, peci, penutup kepala atau nama-nama lain yang lazimnya sering disebut orang-orang kebanyakannya, Why ? Nah oleh sebab itulah disini saya akan mendiskripsikannya melalui tulisan ini mengenai kopiah jangang tersebut. Pertama-tama saya akan tuliskan dulu mengenai di mana kesenian itu berasal dan bagaimana cara pembuatannya. Kesenian menganyam kopiah jangang ini berasal dari yang sering juga disebut orang daerah pengrajin anyam-anyaman, di mana orang-orang di sana mulai dari datu-datu mereka terdahulu sudah mulai mengenal kesenian menganyam sebagai suatu warisan, sehingga sampai sekarangpun masih kental berkembang di daerah ini  secara turun-temurun. Kesenian ini bisa kita temui di daerah Margasari Kecamatan Candi Laras Selatan Di Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan, yaaah kurang lebih 30 kilomiterlah dari tempat tinggal saya Di Rantau. Wah Jadi Narsis nih ya sayanya,hehehe…Masyarakat di sana mayoritasnya bekerja sebagai petani dan ada juga sih sebagiannya bekerja sebagai PNS, tapi itupun kebanyakannya orang-orang pendatang yang kebetulan ditugaskan di sana. Di samping itu dalam mengisi waktu luang ketika tidak musim tani masyarakatnya bisa melakukan pekerjaan anyam-menganyam ini sebagai kerja sampingan mereka, yang memang pekerjaan menganyam itu sebagai kesenian dan kerajinan, justru merupakan suatu kebiasaan, kebisaan, keterampilan serta keahlian orang-orang Margasari tentunya. Di antaranya hasil dari kesenian mereka ini adalah anyaman purun, anyaman paikat dan yang paling popular, paling di kenal di mana-mana saat ini serta merupakan topik yang ingin saya tuliskan yaitu “Kopiah Jangang”.
Tahap selanjutnya, bagaimana cara dan proses pembuatan kopiah jangan ini? Untuk cara pembuatanya sendiri sangatlah simple bagi orang-orang Margasari yang memang mahir dan terampil dalam masalah anyam-menganyam, tapi kalau bagi kita yang awam ini dan sungguh nggak ngerti dalam menganyam mungkin bisa memerlukan waktu beberapa hari yaaaaa!!! Tapi sebelum melakukan proses penganyaman, tentunya terlebih dahulu harus mencari bahannya yaitu tumbuhan jangang. Tumbuhan jangang sendiri memang ada  khusus ditanam di daerah Margasari, sehingga para pengrajinnyapun tidaklah begitu susah untuk mendapatkan bahannya. Tumbuhan jangang ini berbentuk kelopak buah yang besar, dari dalam kelopak buah itu akan di ambil bahannya yaitu berupa serat-serat halus seperti benang. Kemudian serat-serat tersebut dibersihkan dengan air dan dari serat tadi dipisahkan, diuraikan satu-persatu sehingga nantinya akan membentuk suatu benang yang memanjang dari bahan jangang tadi. Setelah sudah terurai membentuk benang lalu serat tersebut dijemur untuk pengeringan bahan. Ketika bahannya sudah kering barulah para pengrajin bisa melakukan proses penganyamnya menjadi sebuah kopiah dengan berbagai bentuk serta motif-motif  yang sangat indah dan variatif tentunya. Itu tadi sedikit gambaran mengenai bagaiamana cara dan proses penganyaman kopiah yang bahannya ini berasal dari tumbuhan jangang, maka dari itulah kenapa jadi diberi nama “Kopiah Jangang”, karena kopiah tersebut terbuat dari bahan jangang yang dianyam, cukup unikkan kedengarannya.
By the way kenapa kopiah jangang ini jadi dikatakan popular dan unik? Kalau kita bandingkan tentunya berbeda dengan kesenian di daerah Jawa, misalnya saya sebutkan saja salah satunya “Belangkon”. Semua orang di seluruh Indonesia juga tau apa itu yang namanya belangkon, terkecuali orang-orang bukit atau orang pedalaman dan sering juga kita sebut suku-suku Dayak yang tidak mengetahuinya. Jangankan mendapatkan informasi atau pengetahuan dari luar, di mana untuk berjumpa hal layak ramai saja mereka memerlukan waktu yang lama dalam perjalanannya. Bagaimana mereka bisa tau tentang belangkon, iya nggak? Eh kecuali Anda sendiri nie yang mau pergi kesana untuk mengenalkannya, hehe ( just kidding ). Nah dari sini saya menyimpulkan bahwa artinya belangkon tersebut hanya bisa disalurkan dan dijual di wilayah Indonesia saja dalam pemasarannya, sedangkan bahannyapun tidak alami langsung dari alam. Disini sungguh sangat berbeda dengan anyaman kopiah jangang khas kesenian daerah kita ini, selain bahannya alami langsung dari alam yaitu tumbuh-tumbuhan jangang. Di samping itu saya pernah wawancara dengan orang Margasari yang katanya kesenian anyaman kopiah jangang ini telah sampai ke luar negeri yakni ke negeri Arab. Berarti kesenian anyaman kita ini tidak hanya di kenal di Indonesia, tetapi penyaluran dan pemasarannyapun sekarang sudah sampai ke Luar negeri. Maka oleh karena itulah kesenian anyaman kopiah jangang ini dikatakan popular dan unik. Harusnya dengan ini kita bisa merasa bangga, bahwa kesenian kita bisa dikenal di negeri orang dan akan selalu mencintai budaya daerah sendiri serta menjadikannya sebagai kesenian Lokal Genius yang ada di daerah kita tercinta ini. Nah bagi Anda nie yang memang tertarik dan penasaran mengenai kesenian anyaman kopiah jangang ini serta anyam-anyaman unik yang lainnya atau ingin memilikinya, silahkan saja Anda bisa mampir serta membelinya di daerah Margasari.
Anton Wiranata
Mahasiswa FKIP UNLAM
Prodi Sejarah asal Rantau
           TRADISI BAAYUN ANAK DI MASJID KERAMAT BANUA HALAT 
Kalau kita sedikit menerawang untuk memikirkan dan memahami mengenai baayun anak ini, dapatlah kita berfikir secara logika bahwa hal tersebut adalah biasa saja. Sejenak orang berpandangan dan bisa menyimpulkan baayun anak merupakan suatu kebiasaan yang sudah lumrah di lingkungan masyarakat kita ini dalam mengasuh anaknya. Ketika anak sedang kecapean atau menangis, ibupun akan melakukan yang dalam bahasa Banjarnya “membisai” agar si anak  bisa tenang, lalu langsung pergi keayunan untuk menidurkan anaknya tadi. Mungkin itulah sekilas gambaran yang bisa kita ketahui tentang baayun anak. Tapi disini bukan hanya sekedar baayun anak biasa, hal tersebut sangatlah berbeda dengan pernyataan di atas. Tradisi disini dilakukan secara khusus dan mempunyai arti tersendiri. Maka untuk itu, marilah kita telusuri dan ungkap bersama apa makna serta maksud Tradisi Baayun Anak Di Masjid Keramat tersebut ?
Tradisi baayun anak itu sendiri merupakan suatu kebudayaan serta kebiasaan agamis yang sudah sangat kental dan sakral dilakukan. Mereka yang selalu mengadakan tradisi ini adalah masyarakat yang tinggal di daerah Banua Halat Kecamatan Tapin Utara Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan. Di samping di pandang sebagai tradisi kebudayaan, masyarakat di sana juga menganggapnya suatu acara keagamaan yang bertujuan untuk lebih dapat memupuk rasa keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Acara baayun anak ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali yaitu bertepatan dengan bulan lahirnya junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW (12 Rabiul Awal). Ketika datangnya yang sering juga disebut orang bulan Mulud, setiap muslim di berbagai penjuru dunia merayakannya. Terlebih khusus di kota Rantau, di mana warga-warga di setiap kampung sangat antusias untuk merayakannya. Sebab tidak ada tujuan lain bagi mereka semata-mata membesarkan dan memuliakan bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Secara bergantian di setiap kampung-kampung merayakannya dengan biasa membacakan di antaranya : Maulid Al-Habsy, Maulid Al-Barjanji, Maulid Saraful Anam, Maulid At-Tiba’i dan maulid yang lainnya. Di dalam setiap Maulid isinya tidaklah jauh berbeda satu sama lain yakni menceritakan riwayat hidup Nabi Muhammad serta kebesaran dan kemuliaan di sepanjang kehidupan Beliau.
Berkenaan dengan tradisi baayun anak ini bisalah dikatakan cukup menarik untuk ditonton, karena sangat jarang dilakukan orang di Indonesia bahkan juga di dunia. Rasanya cukup mengejutkan bukan? Kenapa hal tersebut dikatakan jarang dilakukan, karena peserta dari tradisi ini bukan hanya diikuti oleh anak-anak  saja, tetapi juga orang-orang dewasa bahkan sampai kakek-kakek dan nenek-nenek . Dari sini pasti membuat Anda merasa bingungkan dan berkata : “ko kakek dan nenek yang sudah lanjut usia masih baayun, seharusnyakan hanya anak-anak saja”. Nah itulah unik dan menariknya tradisi baayun anak di Masjid Keramat ini.
Kakek dan nenek ikut acara baayun di sini, karena mereka sebelumnya mempunyai hajat dan bernajar kepada Allah SWT, misalnya saja : “Apabila Allah menyembuhkan sakit ini, saya akan bernajar ikut acara baayun anak di Masjid Keramat”. Apabila sakit yang dideritanya itu sembuh, maka dalam hukum Islam hal tersebut jadi wajib dan apabila tidak dikerjakan akan berdosa.  Oleh sebab itulah kakek dan nenek tadi mengikuti tradisi tersebut.     
Sebelum kegiatan baayun dilakukan, para tokoh agama dan para alim ulama berhadir berkumpul di Masjid  untuk membacakan Maulid Al-Habsy. Kemudian setelah Asyrakal barulah setiap anak-anak, kakek dan nenek yang bernajar tadi dibuat keayunan untuk diayun sebentar. Hal tersebut yang menurut kepercayaan orang Rantau sering dikatakan “Mengambil Berkat”. Berkat bertepatannya dengan hari lahirnya Nabi Muhammad SAW (12 Rabiul Awal), diharapkan  anak-anak yang diayun tadi kelak setelah dia besar nantinya menuruti dan meniru jejak kehidupan Rasulullah. Setelah selesai acara baayun anak, biasanya dilanjutkan ceramah agama sekitar kelahiran dan perjalanan hidup Rasulullah selama kehidupan beliau seraya mengambil ’itibar. Ceramah ini biasanya disampaikan oleh ulama-ulama besar yang ada di Rantau juga dihadiri oleh Bupati Tapin dan unsur muspida lainnya yang berhadir untuk memeriahkan acara tradisi baayun anak yang dilaksanakan di Masjid Keramat Banua Halat tersebut.

Anton Wiranata
Mahasiswa FKIP UNLAM
Prodi Sejarah asal Rantau


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar